MARSINAH versus GUS DUR
: Antinomi dua guru bangsa
Special image | mix by AKUNDAstudio 2025
Marsinah adalah api dari akar rumputmenjalar membakar ujung jemari para penguasaIa berdiri di lantai pabrik yang becekdengan keringat dan amarah meneriakkan nasibSedangkan Gus Dur adalah air tenang, namunmenghanyutkan kecerdasan ke udara peradabanIa duduk di kursi kayu pesantrensembari merajut benang-benang diplomasiYang satu adalah teriakan di tengah deru mesin bisingYang lain bisikan tajam di telinga sejarah yang sering tuliMereka dua kutub beda warna dan pengucapanTak pernah berjabat tangan di satu ruangMarsinah memilih jalan aspal, demonstrasi,dan kepalan tangan yang kerasGus Dur memilih jalan teks, berkelakar –strategi yang cairPerlawanan Marsinah berakhir di liang lahat, dipaksa bungkamPerlawanan Gus Dur berakhir di istana, dipaksa terbukaKeduanya sebuah pertentangan, saling menghidupiMarsinah menuntut upah nyatademi perut lapar hari iniIa tak butuh teori demokrasi ataupluralisme melangitBaginya, keadilan adalah lima ratus perakyang hilang dari kantongSementara Gus Dur sibukmenata pondasi bangsaagar tak runtuh oleh benci maupun caciIa bicara tentang hak asasisebagai payung besar bagi jutaan orangDua kutub ini saling memandang dari jarakyang begitu jauh namun terikatTanpa keberanian Marsinahyang berdarah-darah di akar rumput,gagasan Gus Dur tentang kemanusiaanhanya akan menjadi hiasan perpustakaanTapi tanpa kearifan Gus Dur yangmenjaga nalar tetap waras di puncak,pengorbanan Marsinah hanya akanmenjadi statistik yang mudah dihapusYang satu menyediakan martir,yang lain menyediakan maknaKeduanya bertentangan dalam rupa,namun menyatu dalam tujuanMarsinah adalah martirtak sempat membaca kitab-kitab suciIa sibuk menghitung jam lembur, dantak pernah dibayar adilGus Dur adalah pemikir,menjadikan kitab suci sebagai senjata,sibuk menafsir ulang keadilan agartidak menjadi milik kelompok tertentuDi sini ada perlawanan kelasyang kasar bertemu dengan etika yang halusBenturan yang menciptakan percikan apibagi nurani bangsa yang sedang lelapGus Dur berargumen bahwanegara harus menjadi penengah yang bijakTapi Marsinah membuktikan bahwanegara adalah algojo yang dinginInilah antinomi yang paling perih dalamsejarah pembangunan bangsaTeori tentang perlindungan warga negararuntuh di tangan tentaraGus Dur mencoba memperbaiki mesin negaradari dalam bilik kendaliSedangkan Marsinah adalah pasir yangmenyumbat roda mesin yang zalimPluralisme bagi Gus Dur adalah perayaanatas perbedaan warna kulit dan doaNamun bagi Marsinah, perbedaan paling nyataadalah antara majikan dan buruhIa tidak peduli apa agama orang yangmenyiksanya di ruang gelap ituIa hanya tahu bahwa keadilan telahmenjadi barang mewah tak terbeliGus Dur memberikan wajah ramah bagiwajah Indonesia di mata duniaMarsinah menunjukkan wajah lebamsebagai realita tersembunyiJika Gus Dur adalah "Bapak Bangsa" yangmemeluk semua anak-anaknyamaka Marsinah adalah "Anak Haram" yangdibuang karena terlalu jujurKeduanya berada di sisi berlawanandari cermin-retak pembangunanGus Dur mencoba menyatukan kepingandengan lem perdamaianMarsinah memecahkan cermin ituagar kita bisa melihat kebusukan di baliknyaPerlawanan mereka adalah paradoks ganjil,membuat kita tetap terjagaPembangunan bangsa dari masa ke masabutuh diplomasi ala Gus Dur yang licin dan cerdasagar tidak hancur tersulut perang saudara sia-siaTapi pembangunan juga butuh amarah Marsinahyang meledak-ledak, agar para pemegang kuasatidak lupa bahwa mereka sedang berpijakdi atas penderitaan kaum marjinalTanpa ‘Gus Dur’, perlawanan ‘Marsinah’akan menjadi anarki butaTanpa ‘Marsinah’, pemikiran ‘Gus Dur’akan menjadi elitis hampaMarsinah versus Gus Dur adalahdialektika antara fisik dan metafisikYang satu bicara tentang tubuh memardan kemaluan yang hancurYang lain bicara tentang ruh bangsayang harus tetap luhur dan suciKeduanya dua cara mencintai Tanah Air yang samadengan metode saling meniadakan, namunsecara rahasia saling menguatkan,seperti gelap dan terangmembentuk cakrawala terlihat utuhDi satu bait, Gus Dur tertawamenertawakan konyolnya para diktatorDi bait lain, Marsinah mengerangmenahan sakitnya interogasi kejiTawa dan erangan ini adalahsimfoni perlawanan aneh tapi nyataGus Dur menggunakan humormelucuti kesombongan kekuasaanMarsinah menggunakan nyawanyamenelanjangi kekejaman kekuasaanKeduanya, guru bagi bangsayang sedang belajar tentang harga diriGus Dur adalah sebuah sistem simultan,mencoba inklusif bagi semua entitasMarsinah hanyalah sebuah anomali yangmenunjukkan bahwa sistem itu punya cacatKarena dalam pluralisme Gus Dur, seharusnyaMarsinah tidak perlu matiNamun kematian Marsinah-lah yangmembuat pluralisme Gus Dur menjadi mendesakPertentangan ini adalah sebuah lingkarantak pernah putus, sebuah perdebatan abadiantara yang ideal dan yang materialantara perlawanan dan keadilanKita butuh Gus Dur untukmenenangkan badai kebencian horizontalTapi kita juga perlu Marsinah untukmemicu badai keadilan vertikalJika semua orang menjadi Gus Dur,maka tak ada yang berani di garis depanJika semua orang menjadi Marsinah,maka tak ada yang mampu bernegosiasiKorelasi mereka adalah keteganganyang kreatif bagi pembangunan jiwasebuah antinomi yang menjaga agardetak jantung republik tetap berdenyutJangan pernah mencoba mendamaikan merekadalam satu narasi manisBiarkan Marsinah tetap menjadi pemberontakmenuntut hak-hak dasarDan biarkan Gus Dur tetap menjadi kiaiyang mencoba mendamaikan duniaKarena, dalam tegangan antaraaksi dan pemikiran itulahkita menemukan makna sebuah bangsayang sedang tumbuh dewasa, belajardari darah Marsinah dan dari tawa Gus DurAkhirnya, pembangunan bukanlah jalan tolyang mulus tanpa hambatanIa adalah medan laga di manaMarsinah dan Gus Dur terus beraduantara tuntutan perut dan tuntutan nurani,antara massa dan eliteNamun di titik temu yang tak kasat mata,mereka berdua sepakat, bahwa kemanusiaanadalah harga mati tak boleh ditawar lagioleh pembangunan, oleh kekuasaan, atauoleh siapapun jugaDi situlah perlawanan ini bergulirtak kenal musimmenemukan rumah paling abadiSurabaya, Desember 2025
Foto: Suhandayana
Bionarasi
SUHANDAYANA. Tercatat di Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Balai Pustaka, 2000) dan Direktori Penulis Indonesia 2023 (Cerah Budaya Indonesia, 2023). Alumni FH Unair kelahiran Surabaya, 18 Juni 1961 ini pernah sebagai Reporter dan Manajer HRD Surabaya Post. Tulisan kreatifnya termuat di SERENADE UNTUK SEBUAH KISAH (Kemendikbudristek, 2021), THE FIFTH ANTHOLOGY OF WORLD GOGYOSHI (Author: Taro Aizu, Poetry Planet Book Publishing House, 2023), IJEN PURBA: TANAH, AIR, DAN BATU (Taresia, 2024), SETELAH TANPA DEADLINE (MejaTamu, 2025), KEPAK SAYAP BUNDA “ANAK MERAH PUTIH TIDAK TAKUT MASALAH!” (Taresia - TISI - Kementerian PPPA, 2025). Kontak: 0812-1701-8699 site: blog.AKUNDA.net ig: @edumediart fb: Suhandayana Day
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
.

