Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

GAMBAR BISU






Suhandayana 

GAMBAR BISU 









AKUNDAstudio, 20 Juli 2022 




Ref. Masih dalam proses seleksi oleh tim kurasi Masyarakat Literasi Jember | HPI 2022. 




*





segera terbit

Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia, 2022.





22g20

TERPERANGKAP SEBUAH KATA





Suhandayana

TERPERANGKAP SEBUAH KATA




AKUNDAstudio, 12 Juli 2022 




Ref. Masih dalam proses seleksi oleh tim kurasi Masyarakat Literasi Jember | HPI 2022. 




*





segera terbit

Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia, 2022.




22g12

BENANGSARI #1



Suhandayana, Untaian BENANGSARI, 2022. 

PF 1 Juli, beib 


special image en.wikipedia.org/wiki/Leontopodium_nivale 






Suhandayana

BENANGSARI #1


harum edelweiss tumbuh di rumah tua
sekian lama tertikam debu kota
mengawal pergulatan sahaja

suara nyawa kami rajut bersama
di kamar batih, tertatih-tatih
membaca kitab kehidupan
menawar huruf mim dalam kata kerja

benangsari melebur putik
demi kekuatan laki-rabi
turut memakmurkan bumi :
   anak-anak burung telah bermunculan
   dari kelopak bungamu, beterbangan
   lalu mencoba meninggalkan kita
   menemui kebahagiaan alam dewasa



AKUNDAstudio, 01 Juli 2022 







BENANGSARI #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 


*





AKUNDA.net | Edumediart | 








22g01

MANAKAH KOSONG

Suhandayana 

MANAKAH KOSONG 










Surabaya, 22 September 2021




Publikasi : 
  • Kumpulan Puisi | Eksploit Organ Dalam, Ahmad Siddiq Putra Yuda, dkk., Inti Karya Aksara, Cetakan Pertama, November 2021, h. 73. | ISBN: 978-623-98401-6-7 

Copyright sutera.id 


Suhandayana 
- Menulisi Lidahmu (2021) 
- Manakah Kosong (2021) 

*





AKUNDAstudio | AKUNDA.net | Edumediart | 



.

MENULISI LIDAHMU

Suhandayana 

MENULISI LIDAHMU 










Surabaya, 17 Agustus 2021




Publikasi : 
  • Kumpulan Puisi | Eksploit Organ Dalam, Ahmad Siddiq Putra Yuda, dkk., Inti Karya Aksara, Cetakan Pertama, November 2021, h. 71. | ISBN: 978-623-98401-6-7 

Copyright sutera.id 


Suhandayana 
Menulisi Lidahmu (2021) 
Manakah Kosong (2021) 

*





AKUNDAstudioAKUNDA.net | Edumediart | 



.

BIODIGITAL #3

Suhandayana

BIODIGITAL #3 
(produsen versus konsumen media) 


badai globalisasi sengaja dibuat surut
menyamarkan tata perekonomian laknat

negeri-negeri cap 'berkembang' antre bangkrut
akibat kebijakan korporasi internasional mengarus kuat

- propaganda socialism
  “salam petisi ...”

di sana rekayasa biologi nyata
di sini layanan digital dikunyah renyah

di sana berdebu saling serang-mengerang
di sini diksi puitis penjelas cerita perang

di sana dolar yuan euro yen riyal memacu kasta
di sini pro-kontra gambar 'ndoro' seribu dusta

- iklan sabun artis
  “klik beli satu dapat voucher kripto!”

di sana pabrik komunikata mendaging harta
di sini tari jemari menombol rasa hampa

di sana mesin mengendali nasib bangsa-bangsa
di sini sisa kerangka orang-orangan kardus jual kata

- promosi beasiswa luar negeri
  “silakan daftar gratis ...”

di sana tertawa pesta geomental sukaria
di sini kebisuan nyawa biodigital parodi dukacita

di sana revolusi perangkat disahamkan
di sini revisi drama genre korean berdesakan

- sepi berita malam: orang asing bawa visa nomad,
  kaum separatis dan figur oposisi pada ditangkap!

di sana upaya damai berupa imbal dagang 
di sini didamaikan agar menyerah-cundang

di mana-mana cctv menelanjangi aibmu
sampai kapan martabat insan kau adu?



Surabaya, 2021 


SUHANDAYANA. Penggemar musik dan sastra kelahiran Surabaya, 18 Juni 1961. Beberapa kali mengikuti event penerbitan antologi puisi bersama: PUISI MENOLAK KORUPSI, SERIBU TAHUN LAGI, PALESTINE & HUMANITY, BAYI-BAYI PUISI DI ERA DIGITAL, dll. Tinggal di Gubeng Kertajaya IX-A No. 34 Surabaya 60286. email: suhandayana@gmail.com - kontak WA: 0812-1701-8699

#26juliharipuisiindonesia


- - -


Publikasi:



2 (dua) buah puisi kiriman Suhandayana,
  1. CERITA MAYA (2021) 
  2. BIODIGITAL #3 (2021) 




*


AKUNDAstudio | AKUNDA.net | Edumediart | 





posted 21k24-1924 

eksploit organ dalam

eksploit organ dalam 






Kumpulan Puisi 50 Karya Terpilih
Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2021


Copyright sutera.id 



Buku 

EKSPLOIT ORGAN DALAM 

Kata Pengantar 
Tim Redaksi sutera.id 

Catatan Juri 



Penulis 
Ahmad Siddiq Putra Yuda, dkk. 

Sampul 
Artjuna 

Tata Letak 
Artjuna 

Cetakan I, November 2021 

ISBN: 978-623-98401-6-7 
x + 88 hlm,; 14 x 20 cm 

Penerbit 
Inti Karya Aksara 
email: bukuinti.penerbit@gmail.com 
082257304360 


*






Suhandayana 
Menulisi Lidahmu (2021) 
Manakah Kosong (2021) 

*



IG @sutera.id 04 November 2021 



*










.





*





 AKUNDAstudio | AKUNDA.net | Edumediart | 





.

CERITA MAYA

Suhandayana

CERITA MAYA 


segenggam telepon pintar
menemaniku tidur ayam tiga perempat sadar
notifikasi menggetar menghambur pesan-pesan
dari jutaan mulut anonim berdenyutan
memburu rasa haus pembaca lapar

mimpi buruk memaksa keyakinan
inilah atmosfir komunikasi, ruang labuh bajak-udara
dan sekian banyak akun mata-mata kantor berita
bersenjata mesin identitas yang mampu meretas
menumpah pesona hiburan metropolitan atau
laporan neraca bisnis jaringan piramida
nominal berdigit-digit tanpa batas hitungan riba

siang-malam impulsi gadget berkeliaran
desingan wacana melumat ingatan
pagi berikutnya, alam nasut berlelehan
mengikut gerak rigid di jendela android
menjelma cerita maya berjam-jam

impian dan fakta saling melenggang
pada sehelai sudut pandang penebar mainan seranta
menjual tema virus plus merk vaksin beraneka 
membeli peperangan di asia bau sara
pernyataan, testimoni, unggahan repertoar
sukar terbaca mana putih mana jelaga

di tengah pentas musik daring tersisip konspirasi dagang
perlombaan bujuk semesta membalik iman terfitnah
budaya latah hanya demo, unjuk kata-kata berdarah

oooaaaiiimmm ...
sebelum video kandidat pilpres curi start ditayang
aku terkesiap, menggeliat kesiangan
negeri bahari dan bajak-laut sudah ditawar orang?!



Surabaya, 2021


SUHANDAYANA. Penggemar musik dan sastra kelahiran Surabaya, 18 Juni 1961. Beberapa kali mengikuti event penerbitan antologi puisi bersama: PUISI MENOLAK KORUPSI, SERIBU TAHUN LAGI, PALESTINE & HUMANITY, BAYI-BAYI PUISI DI ERA DIGITAL, dll. Tinggal di Gubeng Kertajaya IX-A No. 34 Surabaya 60286. email: suhandayana@gmail.com - kontak WA: 0812-1701-8699

#26juliharipuisiindonesia


- - -


Publikasi:
  • Daftar Peserta Lomba Cipta Puisi Grup FB HPI 2021 | Yayasan Hari Puisi, haripuisi.id Kabar : 352. Suhandayana – (626) Cerita Maya (627) Biodigital #3 | review Oktober 2021. 
  • Grup Facebook HARI PUISI INDONESIA 15 September 2021 https://www.facebook.com/groups/1373048666238229/posts/1852637768279314 



2 (dua) buah puisi kiriman Suhandayana,
  1. CERITA MAYA (2021) 
  2. BIODIGITAL #3 (2021) 




*



AKUNDAstudio | AKUNDA.net | Edumediart | 






posted 21i15-2222 edited 21k24-1924

SUBLIMASI ADAM

Suhandayana 

SUBLIMASI ADAM 



Surabaya, 22-24 Mei 2021 


- - -



Sumber :
  • Antologi Puisi SERIBU TAHUN LAGI, Masyarakat Literasi Jember, Cetakan pertama, Situbondo, Juli 2021, h. 124.

Link posting :
 

*





AKUNDAstudioAKUNDA.net | Edumediart | 





.

PAJAK PRIBADI

PAJAK PRIBADI




Suhandayana Day


PAJAK PRIBADI




mari, rakyatku bangsaku

pejabat, pengusaha, pengamen, kuli,

kurator, mediator, rentenir, pemulung, dll

usulkan berapa persen pajak

yang layak kau bayarkan

untuk setiap ruas diam

setiap sudut gerak kalian


selama apa pun kau pakai

yang kau minum,

kau genggam simpan, dll

semua tindakan yang terlihat khalayak

maka sudah mesti kami tarik bea

juga retribusi pelajar, mahasiswa

apalagi magang kerja


semenit berapa kali bernafas

hitung sendiri pada nota

telah kau hirup angkasa negeri ini

kau juga buang gas kotor di kota

di hamparan desa

bayarlah tax paru-tenggorokan

tahun depan


seminggu berapa kali berjimak

hitung sendiri pada nota

telah kalian nikmati surga dunia

di atas dipan nusantara

bayarlah tax tarian mani-pinggul

tahun ini


jadi, bekerjalah cari nafkah

kerja kerja kerja

entah caramu keras mencangkul

atur saja demi saldo kas rumah-tangga

memenuhi ibadah diri dan ibadah negeri

agar bayar pajak tak tertunda

takkan ada denda


rakyat kaya-raya

perhatikan deposito dan diskonto

siapkan pajak atas saham

pamong bakal mengejarmu

jika kau sembunyi diam-diam

menghanyutkan uang pajak

ke arus belanja royal anak-istri

atau pesta foya bersama grup hobi 


keberatan atas pajak tidak berlaku

jika kalian suka mencela pekerjaan kami

kecuali sudah cap jempol di buzzer list

insentif pajak bisa diusulkan

jika telah tunaikan infaq, zakat, shodaqoh

tak terikut bea naik haji 


pantau berita pagi-sore

baca iklan pajak ramah

catat semua benda di rumah

urus form wajib pajak

tetap beraktivitas seperti biasa

sambil nunggu rancangan tax

diputuskan pakai logika sungsang

menjawab fakta kebangkrutan





AKUNDAstudio, 21F12 22:04


Facebook 


*

Sematkan FB:

<iframe src="https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fsuhandayana%2Fposts%2F10219663099676508&show_text=true&width=500" width="500" height="434" style="border:none;overflow:hidden" scrolling="no" frameborder="0" allowfullscreen="true" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; picture-in-picture; web-share"></iframe>


APAKAH TUHAN BERPUASA




image: medcom.id - istimewa 
[ malam seribu bulan ]




APAKAH TUHAN BERPUASA



tuhan mengajak tuhan-tuhan
sama-sama menyatakan
kami pun dicipta manusia
melalui tapabrata dan puasa

di ruang guru, anak bertanya
apakah para tuhan berpuasa
karena tidak butuh apa-apa
hanya berkehendak luasa
atas kuasa dan bid'ah titah meraga

kalau tidak pernah makan
mengapa musti berpuasa
tapi puasa adalah Haq-NYA
agar manusia tau
siapa memakan siapa
(si)apa butuh si(apa)

guru dan anak kelas
tetap bertanya-tanya
sampai mereka menjejak alam dewasa
saat bertapa menemu 'arsy hening-tenang
saat berpuasa menemu malam-panjang
syafa'at pun diterima di hari raya
selaksa ampunan menjadi asa

semua bacaan telah katam
kecuali sehalaman buku makrifat
memancar cahaya tanpa rupa, berkisah
yaa, Tohaa - dari jaman ke jaman
di arena kubah langit semesta -
ternyata hadir keridloan berpesta
dua perkara serba-niscaya
saling makan-memakan
sahur tak berakhir, terus berbuka

kisah pun mengulang peristiwa
kelak bagi wali-kholifah fana
puasa-MU tuntas mengulas keberanian
demi membunuh aneka tuhan




AKUNDAstudio, 18 Maret 2021
(revisi 09 Mei 2021)


unggah di Facebook


*

Catatan | Puisi | Poem |




21c18-21e09

MENJAGA AIR-MU


image by AKUNDAstudio 20a05






MENJAGA AIR-MU 



banjir bandhang takkan menunggu makian
saat kau kehausan atau sedang berhajat mantenan
ketika secangkir kopi menghangati dada gigil
air tetap mengalir deras menawar sikap bakhil
menolak atau kau panggil bah dalam mimpi kaum urban
gunung desa sawah kau tinggal kini tergenang
metropolitan kau jelajah juga bisa tenggelam
membaca menjaga menadah air-Mu sungguh tak mudah
memimpin samudera arus tenang atau bergolak
agar mengalir bening ke hilir hidup, mengolah hiper-subak
hingga rasa syukur tetap semayam bagi tumbuh kembang merebak



AKUNDAstudio, 05 Januari 2020 






  • https://suhandayana.wordpress.com/2020/01/05/menjaga-air-mu/ - 5 Januari 2020 
  • https://www.facebook.com/suhandayana/posts/pfbid0gBQexzJrxRogVuivgdz2AXhNkiNYMBTfNt9BBHJww4o4Mm3mGdbphmEoVfTFfxfel - 5 Januari 2020 21.03








* 20a05

Rombeng

.

Suhandayana

ROMBENG #1


bila kini sudah tak ada lagi sisa Rahasia-Nya
mengapa tidak akrab terhadap momentum kematian kita sendiri
bila Rahasia-Nya masih menawan pertanyaan manusiawi
mengapa kita tidak meniti hidup dan kehidupan semesta
sepenuh cinta kepada-Nya


Surabaya, 05 Agustus 2016





* japri whatsapp ke Rofi, Roem, Jajang



*





2016 | catatan | moment | art | puisi | poem | poetry | sastra | filsafat | kredo | hujah









AKUNDAstudio | AKUNDA.net




.

CAMBIUM

review .



Cambium 1 



https://sipenulis.com/AKUNDAstudio/read/cambium/1

Suhandayana, Cambium 1, 15B11 


............

ketika kuketuk sebuah pintu terdekat
dijawab petugas portal:
menggeleng lalu menengok kiri
aku tahu, agar segera bersihkan tubuh
jisim-jirim terlontar ke lubang pencucian

tak tersisa hiasanku dileleh bara kayu
selaksa cambium terbakar demi pemutihan
sungguh menyayat memisah kayu dari batang
keduanya pun hangus menggelepar
memang kerudung ini jadi bersih, kering
paling hanya tersentuh penggalan debu lapar
tapi tadi, betapa tersulut pedih-perih
badan hancur remuk tak sempat pipih

............


*




Suhandayana

Cambium 1 

 
aku mengelupas meringan bagai kapas lihat, tempat itu tetap membekas menjarak hampir lepas usai ragu jadi cemas dari bangun duniawi, sekejap, akan segera libur lama kejadian di masa lalu melompat-lompat, kian mendekat catatan harian baik-buruk berputar searah jarum jam bagai spiral bergerak thowaf tak berapa lama: pertanyaan tajam menghadang mulut terbungkam menjawab tanpa suara tanpa kata sebab aku telah terikat niat semoga selamat dalam hulu iktikat oh, ini ternyata perjalanan bebas kemauan sudah lenyap sekeliling berkehendak sunyi, meluas-luas mata melibas horison cahaya bertemu sumur-agung, menatap palu ranah bijak, menjunjung panji imamah sedetik terasa berputar seperseribu waktu ketika kuketuk sebuah pintu terdekat dijawab petugas portal: menggeleng lalu menengok kiri aku tahu, agar segera bersihkan tubuh jisim-jirim terlontar ke lubang pencucian tak tersisa hiasanku dileleh bara kayu selaksa cambium terbakar demi pemutihan sungguh menyayat memisah kayu dari batang keduanya pun hangus menggelepar memang kerudung ini jadi bersih, kering paling hanya tersentuh penggalan debu lapar tapi tadi, betapa tersulut pedih-perih badan hancur remuk tak sempat pipih ya, namaku dipanggil menaiki lipatan tangga menapak lereng bukit terjal sampai juga di jalan datar kembali kuketuk pintu sebelah penjaga portal masih menggeleng: bukan di sini kursimu, itu ... di sana hah, di atas lebih dalam memerah-api-ruah baju gamis penutup ruh jadi sasaran rupanya masih ada urusan kerapian binatu mulai rajin menuai permukaan pori-pori menggosok keras kekhilafan kusut-masai lapisan bara baja memilin benang demi benang nyeri, linu, melepuh berulang-ulang hingga tenunan kembali licin tanpa kanji tanpa miang namaku dipanggil lagi sampailah ke altar cerah tanpa warna kutanjaki pintu ajaib bertanda janji-janji, ini pernah kukenali di penjara kurukshetra sebelum jari mengetuk, ada jawaban: dipersilakan masuk, hampir tiada susah-payah dalam istana megah penuh gairah anak-anakku berlarian menyambut memapah mendongakkan piala minuman arak-susu kuhabisi teguk demi teguk tanpa nafsu takkan pernah terasa kenyang atau haus di bilik kanan istri-istri sedang menghela aneka bidadari busana transparan dan warna kulit tiada beda bersinar sejak dari dalam sumsum hakikat mereka berwajah belia senantiasa awet muda seorang istri menyapa -inikah pesona miskat cahaya tak pernah terbayang sekalipun mereka bersukacita mengindahkan tanpa ampun suatu ketika swara teduh bersalam memalingkanku dari para dara dia tersenyum ceria bak perak rembulan meninggikan puncak kenikmatan hingga terlihat seluruh tahap penciptaan dari awal hingga akhir penuh pujian inikah area rehat, cuma mengerjakan khidmat dari awal hingga akhir tiada waktu apalagi rambu dinding manapun berhalaman sama-sebangun di hampar permadani sutera bermainkan permata begitu luas bagi nafas, hening ... bening keabadian telah merangkai ruh-ruhmu mengurai shodaqoh jadi cinta, kasih, sayang tak berkesudahan wenangku mengubah hidup kalam demi kalam 


- AKUNDAstudio, 11 Februari 2015 


*


[ old link on sipenulis.com/AKUNDAstudio 
https://www.sipenulis.com/AKUNDAstudio/reads/20150211-095938-1423648778-cambium/1 ] 





*



http://www.sipenulis.com/AKUNDAstudio


 SiPenulis.com





AKUNDAstudio | AKUNDA.net |



update link 22b20 

.

API MASEHI

Suhandayana
API MASEHI


api masehi masih menggeletar memecut punggung avatar
zaman kian terik, menawar dahaga atas syahwat kesenangan
cawan-cawan kosong mesti diguyur salju kenikmatan

air menumbuh angin layangkan tornado
awan hitam memacu tsunami setiap musim
mentari melahap isi mata, cahaya merah meruah
menjadi pilar-bakar teknologi hedonik
umatmu patuh bersyarat dunia gemerlap
pasukanmu meniduri siang merayapi malam

masihkah kau pesta masehi di penghujung tahun lunar di altar berdebu ini
agar cuaca terang bagai ambisimu
persembahan apalagi bakal membujuk ilusi
sang surya pujaanmu terus melapar, nyeri lambung tak terperi jika kau lupa menambah sesaji

pijar api masehi bak benang halus, liat-kuat
merapati badan menjerat ruh dan berhala
begitu panas hingga tak terasa

di tengah arus cahaya kelam, beberapa hati giat mengurus syahadat
puji syukur takkan surut walau terancam badai gerhana masehi muram





  • API MASEHI, AKUNDAstudio Metadesign | Surabaya, 13 Desember 2013 | 
  • nolkasta https://nolkasta.wordpress.com/2013/12/13/api-masehi/

*



API MASEHI | Puisi | Cergam | 










iDay_13L13

DOA ENGKAU

Suhandayana

DOA ENGKAU


Yaa Alloh pemberi kami petunjuk
dan Engkau telah memperjalankanku
Yaa Alloh pemberi kami kendaraan
dan Engkau telah melapangkanku
Yaa Alloh fitrah kami kembali
dan Engkau telah menyebabkanku
Yaa Alloh kami dalam genggaman bahtera-Mu
dan Engkau berdiam dzat Sendiri
Keridhoan atas kesaksianku pada segala milik-Mu
dan syukur atas wujudku
Sang Pemaaf kami, dan kuamini dalam iman



AKUNDAstudio, 29 Agustus 2010 




Publikasi :
  • Suhandayana, Doa Engkau, 2010 | posted September 1, 2010 oleh familydomestic | familydomestic.WordPress.com | Email: businessinfolink@gmail.com 
  • ... 


*


Suhandayana | 2010 | Agustus 2010 | 29 Agustus 2010 | catatan | puisi | poem |  

*



AKUNDAstudio | AKUNDAnet | Edumediart |  



HITAM

.





Suhandayana, HITAM, 2009.



Hitam adalah api sembunyi dalam rahim dalam diam dalam bakaran sunyi dalam amarah lembut dalam buta dalam langit dalam dekapan dalam burai biru dalam tiada tau menyimpan segala mau dari datang ku dari pergi ku dari apa segala bermula dan diakhirkan jika api telah bekerja memandang luka mendendang nada menjilat dupa menawan adam berupa hawa mengalir merah berupa darah menerjang waktu sangat ngilu lalu api kembali meragi di balik rindu sepi berubah hitam paling hitam di taman sentosa kedinginan mengajak beku menanam selaksa mau di tebaran angin henti sempat bertanya kau mau ku kau raja ku kau api ku kau daku iblis di surga meraba kuasa ku kelak api menghunus pedang bakar hujami iblis hingga demam tak berwarna


*




catatan | puisi poetry poem poet | lirik | kata | diksi | metafora metaphor |   





AKUNDAstudio | blog AKUNDA.net | Edumediart



.

HILANG

Suhandayana

HILANG



#1

aku tetap mengasah lidah agar tetap lebih tajam daripada pedang buatan empu manapun
tapi lidah tak dapat kupaksa bercerita tanpa kesaksian perbuatan
terkadang lidah mengayun kencang tak terkendali sebab sudah beribu malam pengap memenjara pendapat
terkadang menjulur ke ranah langit bersaing gebalau petir membungkam musim bicara
lidah kutajam ke meja hijau ke pintu surau ke planet usang agar kata kembali ke lafaz akbar
beberapa kali lidah bak ranjau meledak saat aparat dan tentara mengusir kaum sudra
lidah telah mewujud di sorot mata menusuk wajah guru dungu
di ujung jemari menohok pejabat bejat emoh berkunjung ke jantung-hati rakyat
di hulu para tengkulak lidah merobek-robek perdagangan nasib
di sanggar seni lidah menggugat penipuan intelektual paling laten

(meludah ...)



#2

anak-anak tak kebagian dunia harapan
sisi empang, jalur hijau, petak gobak-sodor habis di makan plasa, restoran, game-zone, padang golf
gelak riang langkah lucu spontan telah diapung ke permukaan riak-buih konversi sebagai sumber daya ekonomi
jurus quadrant dan piramid maslow perlahan pasti mengunyah anak di geligi gaya hidup orang metro
pragmatis, tak etis, bengis
anak-anak terpaksa tertawa dengan hidung tersumbat jelaga industrialisasi
otak terserang virus encer
tak kritis lagi
hilang idea hilang darah hilang kanun hilang insaniyah
peristiwa kehilangan yang tak perlu pengaduan dan daftar pencarian manusia hilang



#3

tak usah dihitung, padang golf jauh lebih luas dibanding tanah makam
kematian telah dirancang jadi komoditas paling terpinggir
sangat murah sampai-sampai membunuh adalah wajib demi status quo
tapi penguburan biar urusan si mayit
bola ke-13 siap ditendang stick bersepatu paling keras:
siapa lagi mengancam bisnis konglomerasi laksanakan kematian bagi penghalang tanpa upacara dan sesaji
melesat terpelanting masuk hole terakhir
score penghabisan ditetapkan sebagai hari penyembelihan nabi (atau Ismail)
burung gagak kian cemas, putus-asa hentikan pengajaran penguburan
para korban pembantaian ragu melangkah ke ceruk tanah makam
mereka berjalan gontai terbawa angin populer merasuki halaman koran, ruang sidang pidana, tangis dan parodi menghias milis dan opera teve
dan pemilu tanpa aroma darah digelar dengan mengekang sejuta tanya tentang cuci uang konspirasi hitam atau pun korupsi jangka panjang



#4

ke mana para gembala kaum menghilang ketika kedamaian berjalan compang-camping, ketika martabat dipecah-belah jadi receh, ketika makin banyak manusia antre pengen jadi mesin kapitalis ambigu?
mereka pun telah menyatu dalam kerut-centang gurita pemburu harta
telah larut dalam minuman pesta di hari berbangga sesama penjajah jadah



#5

rumahku teater alam pentas lakon tiap hari
telah ribuan cerita menetas dari kisah cinta dalam lagu iman dalam geletar godaan dalam harapan kembali selamat usai menjadi dan melihat tokoh sepanjang kehidupan bani-adam
hampir setiap pertunjukan kehilangan tiket
penonton yang serakah menghuni kursi-kursi tua paling depan
atau tiket tak laku, ditolak penonton yang membangun teater sendiri di puncak-puncak gunung, di tepian laut, melawan mimpi tak bertepi

rumahku teater tak peduli dibangun di atas tanah milik siapa
lakon demi lakon menghunus keris ken-arok melontar panah arjuna
mengayun kapak merakit cinta menambalnya bagi primadona
agar aksi tak menggelombang hingga mendedah ujung langit
agar bumi tak goyah meredam geretak kekerasan dalam rumah-tangga teater luka
aku melihat yang menjadikan ku peran sedih dan gembira dalam gelap-terang lampu panggung yang selalu menawan skenario dalam kitab suci dengan harga semaunya, menjadi warna-warni persaingan atau persekongkolan harga yang bisa mengangkat atau bahkan menghancurkan martabat keinsanan



#6

ke mana lubang-lubang itu berbunyi
takkan hilang nafas bergetar sehalus diam
ya, telinga mendengar lebih tajam daripada pengelihatan adalah mata-angin merahasia seluruh kejadian abadi



#7

demo perilaku paling mudah lewat kata-kata, jargon, dan filsafat layak dicerna para insan
jika kata pun tak menolehkan wajah para wakil, saatnya turunkan hati mereka ke jantung babi, ke sebelah kiri sapi betina, atau ke dubur anjing gila
mereka tak pantas dihormati sebab telinga serangga lebih bermanfaat daripada sikap telinga pekak tak tahan pekik
pagi buta bocah-bocah telah bermain di tepi selokan, berlarian, lalu menendang onggokan beribu lubang daun telinga-telinga lama tergeletak busuk
sementara display koran dan internet memampang iklan wanted:
telingaku hilang saat menerima suap dan hadiah di jalur antara back-street dan black-market
siapa menemu harap menghubungi isme-isme setempat



#8

pengumuman:
tempat tinggal hampir habis !
kalian pilih saja
tanah mahal dan rumah murah
sejengkal laut agak mahal dan rumah perahu agak mahal
atau segaris langit gratis dan rumah pesawat super mahal
atau tinggal saja sebagai gelandangan dan pengemis yang direka penghuni proposal-proposal perusahaan dana santunan di atas kop surat dan stampel lembaga pemberdayaan masyarakat tertinggal



#9

memo mafioso:
culik, delete, bereskan semua mata-mata pewarta, vokalis, penjaga asasi, wanita, dan anak-anak
halau mimpi surgawi akibat candu rohani
the godfather butuh ketenangan memimpin gerakan halus mafia di nusantara hiingga antar benua





AKUNDAstudio, 2009

POEM

Suhandayana, 2007:




regenerasi tanpa puisi
terlahir padat
zaman jadi padat, segala dimuat
berjalan cair
zaman mencair
lari secepat asap
zaman sudah menguap
generasi kian encer, dada menggelembung
hampir tak pernah meneduhkan kepala
dalam hati kerajaan zaman
ke mana generasi menyelinap
hamparan buih mudah pecah
tak mungkin mereka bertahan di situ
sudut perih setiap kali terhunus
ketika regenerasi berpadang tandus
tebasan pedang meraih leher-nyawa
bayi-bayi zaman mengawang
antara keterpisahan langit-bumi
dan tak mudah diperintah menyatu
menganga jiwa-raga tanpa poros
tanpa terawang tanpa lubang
tanpa gagasan tanpa alas
tanpa kesadaran tanpa kebodohan
tanpa regenerasi tanpa arti
tanpa apa-apa lagi?
tanpa puisi









.

La PERSADA Nusantara

La PERSADA Nusantara
LaPERSADA Group icon

Kompilasi Grafis

Kompilasi Grafis
Images: ISTIMEWA

Jasa Penulisan, Basic Writing, Editing, Layout

Karya Puisi, Cerpen, Esai Anda di NegeriKertas.com

Karya Puisi, Cerpen, Esai Anda di NegeriKertas.com
http://www.negerikertas.com/

Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2022 | Tanjungpinang

Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2022 | Tanjungpinang
Jazirah Sebelas, Jazirah Duabelas, Jazirah Tigabelas